Misteri Hidup Lagi Setelah Mati Beku

Minggu, 15 Agustus 2010

Dalam beberapa kasus, orang yang mati kedinginan pada suhu ekstrem bisa hidup lagi. Seorang peneliti berhasil menjelaskan fenomena ini lewat eksperimen yang dilakukan dengan ragi dan cacing tanah.



Mati beku atau 'freezes to death' dipicu oleh suhu dingin yang terlalu ekstem, yang sering terjadi di pegunungan atau daerah beriklim dingin. Meski sangat jarang, seseorang yang mati beku bisa hidup kembali.


Kasus pertama terjadi pada musim dingin 2001, menimpa Erika, seorang bayi 13 bulan di Kanada. Gara-gara hanya mengenakan popok saat berkeliaran di luar rumah, ia tewas dengan suhu tubuh anjlok hingga 16 derajat celcius. Saat ditemukan, jantung bayi itu diperkirakan telah berhenti berdenyut selama 2 jam. Ajaibnya, jantung si bayi kembali berdenyut tak lama setelah dihangatkan dan diberi napas buatan.

Kasus berikutnya terjadi di Jepang pada tahun 2006. Seorang pria, Mitsutaka Uchikoshi hilang di Gunung Rokko yang bersalju dan ditemukan 23 hari kemudian dalam kondisi membeku dan tidak menunjukkan tanda-tanda adanya metabolisme. Pria ini akhirnya hidup lagi setelah dibawa ke tempat yang lebih hangat, dan diberi pertolongan. Bahkan kondisi kesehatannya dilaporkan pulih tak lama kemudian.

Didahului dengan kondisi anoksia (tidak memiliki oksigen)
Ilmuwan dari Fred Hutchinson Cancer Research Center, Mark B. Roth, Ph.D. berusaha menjelaskan fenomena ini lewat sebuah eksperimen. Seperti dikutip dari Science Daily, Jumat (11/6/2010), Roth menggunakan ragi dan embrio cacing tanah (nematoda).

Pada eksperimen pertama, ia menyimpan ragi dan embrio tersebut pada suhu di atas titik beku. Dalam waktu 24 jam, 99 persen dari makhluk itu benar-benar mati dan tidak bisa hidup lagi meski dihangatkan.

Berikutnya, ragi dan embrio cacing diletakkan dalam lingkungan kurang oksigen sebelum dibekukan dalam keadaan anoksia (tidak memiliki oksigen). Pada percobaan ini, 66 persen ragi dan 97 embrio cacing bisa hidup lagi setelah dihangatkan dan diberi cukup oksigen.

Kondisi anoksia, menurut Roth telah menyebabkan siklus sel berhenti sehingga kedua jenis makhluk hidup tersebut menjadi mati suri. Didukung suhu dingin, maka secara biologis siklus sel terjaga untuk tetap stabil selama mati suri sehingga tidak benar-benar mati.

"Ketika makhluk hidup mati suri dalam kondisi demikian, risiko terjadinya kesalahan dalam proses biologis yang memicu kematian akan berkurang," ungkap Roth.

Penelitian yang didanai oleh NIH dan National Science Foundation ini akan dipublikasikan secara online dalam jurnal Molecular Biology of the Cell edisi 1 Juli mendatang.

Akibat Terlalu Sering Main Game FPS

Sabtu, 14 Agustus 2010

nih gan gw punya cerita tentang orang yang kebanyakan main FPS

Akibat Terlalu Sering Main Game FPS



Never Say Give Up

Dari seekor siput mungil semoga kita dapat belajar bahwa menyerah bukanlah sebuah pilihan. Tidak perlu basa-basi lagi, langsung saja baca artikel ini yap.

Ketika seseorang berkata "Kau tidak akan bisa".


1. Lihat keadaan di sekitarmu.



2. Pertimbangkan semua kemungkinan.



3. Kemudian lakukanlah.



4. Gunakan semua yang Tuhan berikan padamu.



5. Kreatif.



6. Pada akhirnya kamu berhasil dan membuktikan bahwa mereka semua salah.



Selalu ingat pribahasa luar negeri "When there is a will, there is a way" dan jangan lupa berdoa.

Ada banyak hal yang tidak kita lakukan karena rasa takut untuk gagal, mulai dari sekarang selalu ingat bahwa masa depan ada ditangan kita dan tidak akan berubah sebelum kita merubahnya.

Quote:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS Ar Ra'd (13) :11
Semoga artikel ini bisa menambah semangat teman2 semuanya, akhir kata saya ucapkan terima kasih...!!!

Sumber

Kolam Renang Yang Terbuat Dari 100.000 Liter Cola

Ketika kita masih kecil mungkin kita pernah memimpikan untuk berenang di kolam renang yang terbuat dari minuman soft drink. Sangat mengasikkan membayangkan kita bisa minum soft drink sepuasnya. Tetapi apakah impian tersebut merupakan mimpi yang "manis" ataukah mimpi buruk yang dapat menyebabkan penyakit diabetes (karena kebnayakan minum cola) kita tidak pernah memikirkannya. Namun seiring dengan bertambahnya usia kita menjadi sadar akan realita dengan berenang di kolam soft drink ini: tentu saja semua bagian tubuh akan menjadi lengket(apakah ini menyenangkan) dan apakah jika dapat meminum soft drink sepuasnya akan benar-benar mengasikkan. Dan akhirnya kita hanya menganggap hal tersebut merupakan ide gila semata.


Namun, artis Mike Bouchet (yang mulai membuat cola sendiri pada tahun 2004) baru-baru ini mencoba untuk membuat ide gila tersebut menjadi kenyataan. Pada tanggal 4 Juli, di Twentynine Palms, California, Mike Bouchet memenuhi sebuah kolam renang milik mantan seorang penyanyi Inggris dengan 100.000 liter coca cola hasil buatannya sendiri. Hasil kreatifitas Mike tersebut akhirnya dijadikan salah satu koleksi pameran di The Box (sebuah gallery di LA) sebagai kreatifitas yang menggunakan bahan dari cola.


Terungkap mengapa Monyet Kebal AIDS



Beberapa spesies monyet asal Afrika seperti Sooty Mangebey (Cercocebus atys) diketahui memiliki mekanisme pertahanan alami yang mencegah mereka terinfeksi AIDS. Primata ini dilaporkan dapat terinfeksi virus SIV tanpa berkembang menjadi AIDS meski jumlah virusnya sangat banyak.
Fenoma yang biasa dikenal sebagai natural host tersebut saat ini tengah diteliti para ilmuwan untuk mempelajari pengembangan obat-obatan HIV/AIDS untuk manusia.

Para ilmuwan menemukan pada tubuh monyet-monyet tersebut terjadi regenerasi sel-T, tipe sel darah putih yang membuat sistem imun mampu melawan infeksi kuman atau virus.

Secara khusus diketahui monyet sooty mangabey yang terinfeksi oleh SIV (simian immunodeficiency virus) atau virus kerabat HIV pada satwa primata, mampu menjaga level CD4 dan sel-T melalui regenarasi yang pesat dari CD4 dan sel T yang polos atau belum terekspos racun dan senyawa lain yang merangsang produksi antibodi.

Hasil riset tersebut bisa menjelaskan mengapa SIV dan HIV bisa menyebabkan AIDS pada primata lainnya, termasuk pada manusia. Dalam penelitian ini para ilmuwan dari Yerkes National Primate Research Center, Atlanta, membandingkan sooty mangabey dengan monyet rhesus yang terinfeksi SIV.

"Walaupun kedua spesies itu menunjukkan pertambahan sel CDH4 dan sel T, namun pada monyet rhesus tampak regenerasi CD4 sel T naif yang lebih lambat," kata Mirko Paiardini, salah seorang peneliti.

kompas